Oleh : Ni Putu Ary Pratiwi
Spanduk berukuran 3 x 1 meter membentang di Balai Banjar Mekarsari, Desa Perancak. Menjadi saksi kegiatan lokalatih yang berlangsung selama 5 hari. Dimulai dari 19 Desember 2013 hingga 23 Desember 2013. Disinilah Delta Api Bali berawal.
Kegiatan yang bernama Lokalatih Pengembangan Model Desa
Ekologis Adaptif Perubahan Iklim melalui Pengelolaan Sumberdaya Alam di Desa
Perancak, Bali diikuti oleh 15 para pemuda. Pemuda yang berasal dari beraneka
ragam latar belakang ini nantinya akan menjadi tim inti dalam penerapan konsep
Eco-Climate Village (ECV) yang terintegrasi dengan Pengembangan Desa Pesisir
Tangguh (PDPT).
“Yang paling utama dari PDPT adalah tahapannya melakukan
pelatihan kepada masyarakat. Maka masyarakat perlu disiapkan terutama peran
generasi muda. One person can make different,” ujar Eko Rudianto, Direktur
Pesisir dan Lautan Kementrian Kelautan dan Perikanan.
Delta Api menjadi salah satu program unggulan dari SUKMA++
(Sunda Kecil Maluku, Maluku Utara). Pemuda menjadi target pelaksana program
ini. “Bagaimana peran pemuda bisa membantu masyarakat sekitar dalam menghadapi
permasalahan untuk menjadi tangguh. PDPT merupakan program untuk membuat desa
menjadi tangguh dengan tahapan melakukan pelatihan kepada masyarakat.
Masalahnya adalah menjadikan desa tangguh yang tidak mudah dari segi ekonomi
tapi dari segi budaya itu relatif,” jelas Eko Rudianto saat memaparkan materi
“Meraih Pesisir Tangguh”.
Satu
dari beberapa tahapan dalam pengembangan ECV atau yang biasa disebut Delta Api
(Desa Ekologis Tangguh dan Adaptif Perubahan Iklim) adalah pemetaan
partisipatif. Pemetaan partisipatif dimaksudkan untuk memperkuat implementasi
ECV. “Tidak semua kebijakan sesuai dengan daerah tertentu. Tergantung kebutuhan
dari daerah itu sendiri,” ujar Gendewa Tunas Rancak, Eco-Climate Village Advisor
dari Santiri Foundation.
Dengan adanya pemetaan partispatif oleh masyarakat akan
bersifat bottom up planning. “Pemetaan
partisipatif mulai berjalan untuk menunjukkan keberadaan dan klaim masyarakat.
Peta partisipatif merupakan peta masyarakat untuk membangun mimpi masyarakat
desa,” jelas Kasmita Widodo, Koordinator Nasional Jaringan Kerja Pemetaan
Partisipatif (JKPP).
Apa yang menjadi mimpi masyarakat desa akan terjabarkan
melalui pemetaan partisipatif. I Made Suarnatha, Direktur Yayasan Wisnu pun
mengungkapkan bahwa masyarakat harus mengetahui potensi atau kekayaan Sumber
Daya Alam dan permasalahannya. “Kemudian membuat perencanaan berdasarkan
potensi dan masalah tersebut berpijak dari apa yang kita miliki,” ungkapnya.
Yayasan Wisnu menjadi koordinator Simpul Bali dalam
kegiatan ini. Secara umum kegiatan ini diselenggarakan oleh koalisi Sukma+,
didukung oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Samdhana Institute
bekerjasama dengan JKPP dan Santiri Foundation. Desa Perancak menjadi desa yang
akan dikembangkan dalam penerapan model ECV.
Generasi muda yang menjadi peserta dalam kegiatan ini
diharapkan merancang strategi implementasi untuk mewujudkan ECV yang
terintegrasi dengan program PDPDT. “Bagaimana masyarakat bisa mempertahankan
tanahnya. Jadi masyarakat harus cerdas. Pemetaan partisipatif sebagai
perencanaan masa depan,” tegas Kasmita Widodo.
Comments
Post a Comment